
Di era sepak bola modern, peran gelandang bertahan atau holding midfielder bukan lagi sekadar pemain yang bertugas merebut bola dan memberikannya ke rekan setim. Posisi ini telah berevolusi menjadi salah satu yang paling penting dalam skema taktik tim manapun. Mereka adalah jantung permainan—mengatur tempo, memutus serangan lawan, dan membangun serangan dari lini belakang.

Kalau kamu perhatikan tim-tim besar Eropa saat ini, kamu akan melihat betapa vitalnya peran seorang holding midfielder. Mereka adalah pemain yang jarang mendapat sorotan utama, tapi tanpa mereka, mesin tim tidak akan berjalan dengan sempurna. Bayangkan saja betapa berbedanya performa Manchester City ketika Rodri cedera—dampaknya langsung terasa di lini pertahanan mereka.
Menariknya, penghargaan Ballon d’Or 2024 yang diraih oleh Rodri menjadi bukti nyata bahwa dunia sepak bola mulai mengakui pentingnya posisi ini. Ini adalah sinyal bahwa gelandang bertahan tidak lagi hidup dalam bayangan penyerang bintang. Nilai transfer pemain di posisi ini pun terus melonjak—Arsenal berani merogoh kocek hingga £105 juta untuk Declan Rice, sementara Chelsea bersaing keras dengan Liverpool untuk mendapatkan tanda tangan Romeo Lavia dan Moises Caicedo.
Yang membuat posisi ini semakin menarik adalah tuntutan modern yang membuatnya jauh lebih kompleks. Seorang holding midfielder masa kini harus bisa melakukan segalanya: membaca permainan dengan cerdas, memiliki stamina yang luar biasa, akurat dalam passing, mampu bertahan di bawah tekanan, dan bahkan sesekali mencetak gol penting. Mereka adalah pemain serba bisa yang menjadi penghubung antara pertahanan dan serangan.
Berdasarkan performa sepanjang musim 2024/25 dan pencapaian di tahun sebelumnya, berikut ini adalah lima gelandang bertahan terbaik di dunia saat ini yang patut kamu kenal lebih dekat.
5 Gelandang Bertahan (Holding Midfielder) Terbaik di Dunia Saat Ini
1. Rodri (Manchester City & Spanyol)
Kalau membicarakan gelandang bertahan terbaik di dunia, nama Rodri pasti akan muncul di urutan teratas. Pemain berusia 28 tahun ini bukan hanya sekadar pemain bertahan biasa—dia adalah maestro di tengah lapangan yang mampu mengubah dinamika pertandingan.
Pada Oktober 2024, Rodri membuat sejarah dengan menjadi pemain Manchester City pertama yang memenangkan Ballon d’Or, mengalahkan kandidat kuat seperti Vinicius Junior dan Jude Bellingham. Pencapaian ini bukan tanpa alasan. Musim 2023/24 menjadi tahun luar biasa baginya: meraih gelar Premier League keempat berturut-turut bersama City, menjuarai Piala Super UEFA, Piala Dunia Klub FIFA, dan yang paling membanggakan—membawa Spanyol juara Euro 2024 sambil meraih penghargaan Pemain Terbaik Turnamen.
Statistik Rodri sangat mencengangkan. Dia mencatat rekor 74 pertandingan tanpa kekalahan untuk klub dan negara dari Maret 2023 hingga Mei 2024—rekor terpanjang dalam sejarah sepak bola Eropa. Musim lalu, dia melakukan lebih dari 4.000 sentuhan bola di Premier League, angka tertinggi dalam kompetisi tersebut. Yang lebih impresif, dari 119 pemain yang melakukan lebih dari 1.000 umpan, Rodri memiliki tingkat akurasi passing tertinggi—6,79 poin persentase di atas ekspektasi.
Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan membaca permainan tiga langkah lebih cepat dari pemain lain. Dia menguasai tempo seperti seorang konduktor orkestra, dengan kesadaran posisional yang luar biasa. Rodri membuat 2.068 umpan di bawah tekanan musim lalu, 500 lebih banyak dari pemain manapun. Dia juga masuk dalam lima besar pemain dengan umpan paling sering memecah barisan lawan.
Sayangnya, cedera ACL yang dialaminya pada September 2024 saat melawan Arsenal membuatnya absen untuk sisa musim ini. Namun, dampaknya pada tim begitu terasa—Manchester City kehilangan stabilitas di lini tengah tanpa kehadirannya.
2. Joshua Kimmich (Bayern Munich & Jerman)
Kimmich adalah definisi sempurna dari pemain serba bisa. Meskipun awalnya dikenal sebagai bek kanan, pemain berusia 30 tahun ini telah menemukan rumahnya sebagai holding midfielder di bawah pelatihan Vincent Kompany.
Di musim 2024/25, Kimmich menunjukkan performa luar biasa dengan akurasi passing mencapai 92,9%. Dia mencoba 115 umpan per pertandingan dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi. Yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya mengatur permainan dengan intensitas dan kecerdasan yang sama di posisi manapun dia ditempatkan.
Kimmich bukan hanya pemain bertahan defensif—dia adalah pemain tengah lengkap yang bisa melakukan segalanya. Dia membuat 2-3 umpan kunci per pertandingan, memiliki visi permainan yang brilian, dan tidak takut membawa bola maju saat diperlukan. Kemampuan teknisnya yang mumpuni membuatnya efektif dalam permainan pressing maupun saat membangun serangan dari belakang.
Pengalaman internasionalnya yang luas dan kepemimpinannya di lapangan menjadikannya salah satu gelandang bertahan paling dihormati di Eropa. Di Bayern Munich, dia menjadi pemain kunci yang menghubungkan lini pertahanan dengan serangan, memastikan transisi bola berjalan lancar dan terukur.
3. Declan Rice (Arsenal & Inggris)
Ketika Arsenal membayar £105 juta untuk mendatangkan Declan Rice dari West Ham pada 2023, banyak yang mempertanyakan apakah dia layak dengan harga tersebut. Kini, pertanyaan itu sudah terjawab—Rice telah menjadi jantung permainan Arsenal.
Pemain berusia 25 tahun ini memberikan dimensi baru pada lini tengah Arsenal. Dia membuat 1,7 intersepsi per pertandingan dan menunjukkan keberanian yang menginspirasi rekan setimnya. Di musim 2024/25, kontribusinya semakin mengesankan dengan koleksi 9 gol dan 10 assist—angka yang fantastis untuk seorang defensive midfielder.
Rice memiliki kombinasi unik antara kemampuan fisik yang dominan dan kecerdasan taktis. Dia kuat dalam duel udara, agresif dalam merebut bola, namun tetap tenang dalam mendistribusikan bola. Stamina dan jangkauan larinya yang luar biasa memungkinkannya menutup ruang dengan efektif dan memberikan opsi passing di seluruh bagian lapangan.
Perannya dalam membawa Arsenal hampir meraih gelar Premier League tidak bisa diremehkan. Baik untuk Arsenal maupun Timnas Inggris di Euro 2024, Rice menjadi tulang punggung yang memberikan stabilitas dan energi di tengah lapangan. Profilnya terus meningkat, dan banyak yang meyakini dia akan terus berkembang menjadi salah satu pemain terbaik di posisinya.
4. Martin Zubimendi (Real Sociedad & Spanyol)
Zubimendi mungkin bukan nama yang paling glamor, tapi jangan salah—pemain Real Sociedad ini adalah salah satu holding midfielder paling cerdas di Eropa saat ini. Pada musim 2024/25, meski Real Sociedad mengalami kesulitan di La Liga, performa Zubimendi tetap cemerlang.
Kehebatannya terletak pada konsistensi dan ketenangan di bawah tekanan. Dia adalah perpaduan sempurna antara ketenangan Sergio Busquets dan kecerdasan posisional Xabi Alonso. Kemampuannya membaca permainan sangat eksepsional—dia tahu kapan harus merebut bola, kapan harus mundur, dan kapan harus mendorong tim maju.
Yang membuat Zubimendi sangat dicari adalah kemampuannya memutus serangan lawan tanpa harus melakukan tekel keras. Dia menggunakan positioning cerdas dan antisipasi yang tajam untuk memenangkan bola. Kemampuan passing-nya juga sangat baik, mampu mengontrol tempo permainan dan membangun serangan dari lini tengah.
Ketika Spanyol menjuarai Euro 2024, Zubimendi menunjukkan bahwa timnas tidak merindukan Rodri ketika dia turun bermain. Ini adalah testimoni terbesar untuk kualitasnya. Setelah turnamen, banyak klub besar seperti Liverpool menginginkan tandatangannya, tapi pemain asal Basque ini memilih setia pada Real Sociedad—keputusan yang menunjukkan loyalitas dan karakternya.
5. Vitinha (Paris Saint-Germain & Portugal)
Dari semua pemain dalam daftar ini, transformasi Vitinha mungkin yang paling mencengangkan. Empat tahun lalu, dia kesulitan masuk starting XI Wolverhampton. Sekarang, dia adalah salah satu defensive midfielder terbaik di Eropa dan menjadi kunci kesuksesan PSG.
Di bawah asuhan Luis Enrique, Vitinha berevolusi dari posisi favoritnya sebagai gelandang serang menjadi holding midfielder yang brilian. Meski bertubuh kecil (tinggi 172 cm), dia sangat sulit direbut bolanya berkat komposur, ketenangan, dan kontrol bola yang luar biasa. Musim 2024/25, dia menyelesaikan 592 aksi progresif, angka tertinggi kedua di antara gelandang Ligue 1.
Salah satu momen yang membuktikan kelasnya adalah saat semifinal Liga Champions—dia menyelesaikan pertandingan dengan akurasi passing 100% selama lebih dari 90 menit melawan salah satu tim terbaik Eropa. Tidak ada satu pun umpan yang meleset. Di laga lain di Anfield melawan Liverpool, dia mendominasi tengah lapangan dan membantu timnya lolos ke babak berikutnya—prestasi yang tidak mudah di markas salah satu tim terbaik Eropa.
Kekuatan Vitinha terletak pada kemampuannya mengontrol tempo permainan dan membangun serangan dari posisi dalam. Dia sulit direbut bolanya, pandai menghindar dari tekanan lawan, dan memiliki visi passing yang sangat baik. Di musim yang sama, dia juga berkontribusi dengan angka gol dan assist yang impresif untuk seorang pemain bertahan.
Yang menarik, meski berpostur kecil, Vitinha tidak takut dalam duel udara—komposisi dan timing-nya yang sempurna membantunya memenangkan banyak duel. Kombinasi antara kemampuan teknis tinggi dan kecerdasan taktis menjadikannya salah satu pemain yang paling menarik untuk ditonton di Ligue 1.
Penutup
Kelima pemain ini membuktikan bahwa era holding midfielder sebagai pemain “tukang rusak” sudah berlalu. Mereka adalah pemain modern yang menggabungkan kekuatan fisik, kecerdasan taktis, kemampuan teknis, dan visi permainan dalam satu paket lengkap.
Rodri dengan Ballon d’Or-nya telah mengangkat profil posisi ini ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dia membuktikan bahwa gelandang bertahan terbaik di dunia bisa bersinar terang dan mendapat pengakuan setara dengan penyerang bintang. Kimmich menunjukkan versatilitas dan dedikasi seorang pemain lengkap. Rice menjadi investasi mahal yang terbukti sepadan. Zubimendi adalah bukti bahwa tetap di klub kecil tidak menghalangi kamu diakui sebagai pemain kelas dunia. Sementara Vitinha memperlihatkan bahwa transformasi posisi bisa membawa seorang pemain ke level yang sama sekali berbeda.
Menariknya, setiap pemain dalam daftar ini membawa gaya bermain yang unik. Ada yang lebih fokus pada distribusi bola seperti Rodri dan Kimmich, ada yang lebih agresif dalam duel seperti Rice, ada yang mengutamakan positioning cerdas seperti Zubimendi, dan ada yang mengandalkan teknik tinggi seperti Vitinha. Keberagaman ini menunjukkan tidak ada satu formula pasti untuk menjadi holding midfielder hebat—yang penting adalah bagaimana kamu bisa membuat tim bermain lebih baik dengan kehadiranmu.
Ke depannya, jangan heran kalau nilai transfer pemain di posisi ini akan terus meningkat. Tim-tim besar sudah menyadari bahwa memiliki holding midfielder kelas dunia adalah fondasi untuk meraih kesuksesan. Mereka adalah pemain yang membuat tim stabil, terorganisir, dan berbahaya—kombinasi sempurna yang dicari setiap pelatih top.
Jadi, lain kali kamu menonton pertandingan, coba perhatikan lebih detail pergerakan pemain di posisi ini. Kamu akan melihat betapa kompleks dan pentingnya peran mereka. Mereka mungkin tidak selalu mencetak gol spektakuler atau melakukan assist-assist menawan, tapi tanpa mereka, tim favorit kamu tidak akan pernah bermain sebaik yang kamu lihat.
